![]() |
| APP 2016 |
KATA PENGANTAR
Dengan penuh iman, Gereja mensyukuri perkawinan katolik sebagai sakramen, yaitu tanda kehadiran Allah Tritunggal dalam hidup berkeluarga. Allah yakin bahwa Keluarga Katolik merupakan ladang sukacita Injil yang paling subur, tempat Ia menabur, menyemai, dan mengembangkan benih-benih sukacita Injil. Di dalam keluarga, suami-istri dan anak-anak saling mengasihi, membutuhkan, dan melengkapi dalam untung dan malang.
Keluarga yang mengalami sukacita mewujudkan rencana Allah atas perkawinan dan keluarga. Sebagian keluarga membutuhkan perjuangan lebih karena menghadapi aneka tantangan dan kelemahan. Tantangan dan kelemahan ini sering kali menyebabkan perasaan terbebani, bingung, sedih, sepi, dan bahkan putus asa bagi para anggota keluarga. Tantangan dan kelemahan itu bisa membawa keluarga pada krisis iman yang merintangi, membatasi, dan bahkan menghalangi keluarga untuk setia kepada iman Katolik dan untuk menghidupi nilai-nilai luhur perkawinan.
Keluarga yang mengandalkan Allah percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkannya. Selalu ada jalan keluar. Tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh dalam kepribadian serta iman, harapan, dan kasih. Tantangan tidak harus menyuramkan nilai-nilai perkawinan dan hidup berkeluarga. Melalui tantangan itu, Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya di dalam dan melalui keluarga. Di sinilah perlunya Keluarga Katolik memiliki suatu semangat pantang menyerah.
Keuskupan Bogor memandang perlu mendalami semangat tersebut. Untuk itu dalam Masa Prapaskah 2016 ini, diambil tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang selaras dengan kebutuhan tersebut : “Keluarga Bersemangat Pantang Menyerah”. Untuk membantu umat mendalami tema ini maka Biro APP Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor bekerjasama dengan Komisi Kateketik Keuskupan Bogor mencoba memfasilitasi dengan menbuat bahan pendalaman iman.
Tema APP tersebut kami jabarkan ke dalam 4 subtema, yaitu :
- Tantangan Keluarga Katolik Masa Kini.
- Kasih Sebagai Dasar Semangat Keluarga Katolik.
- Keluarga yang Pantang Menyerah.
- Kehadiran Allah dalam Keluarga Yang Bersemangat Pantang Menyerah.
Besar harapan kami, bahan pendalaman iman ini dapat membantu umat dalam ber-APP. Tetapi mengingat beragamnya kondisi dan situasi umat, kami menyadari bahwa bahan pendalaman iman ini bisa jadi membutuhkan penyesuaian lebih lanjut. Kami mempersilahkannya. Tak ada gading yang tak retak.
Akhir kata, selamat menjalani retret agung, menjalani masa pertobatan. Tuhan memberkati kita semua.
Bogor, 8 November 2015
Biro APP Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor
KERANGKA DASAR
AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP) 2016
“KELUARGA BERSEMANGAT PANTANG MENYERAH”
Tema Keluarga
Setiap Hari Rabu, secara rutin Paus Fransiskus mengadakan Audiensi Umum mingguannya di Lapangan Santo Petrus, Vatikan. Jika kita mencermati Audiensi Umum tersebut maka sejak Tanggal 28 Januari 2015 hingga 21 Oktober 2015, beliau mengangkat tema keluarga dalam katekesenya. Dengan pemikiran-pemikirannya yang luar biasa Bapa Suci mengangkat berbagai tema keluarga seperti : martabat dan peran ayah, peran positif ayah, karunia anak-anak, kita adalah penjaga saudara kita, para lansia, karunia kakek-nenek, penderitaan yang dialami anak-anak, pria dan wanita sebagai sahabat, Perkawinan Kristiani, kehidupan keluarga, pendidikan anak, pertunangan, kemiskinan dan keluarga, penyakit dan penderitaan anggota keluarga, berkabung karena kehilangan anggota keluarga, luka-luka keluarga, perayaan dalam kehidupan keluarga, makna kerja dalam kehidupan keluarga, berdoa sebagai sebuah keluarga, keluarga yang berbagi iman, keluarga dan Komunitas Kristiani, kepentingan sejagat keluarga, hubungan antara Gereja dan keluarga, berjanji kepada anak-anak, kesetiaan pada janji merupakan mahakarya manusia.
Mengapa Bapa Suci mengangkat tema keluarga dalam Audiensi Umumnya? Rupanya beliau melihat dan memahami bahwa tantangan-tantangan yang dihadapi keluarga-keluarga dewasa ini bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata. Beliau memandang perlu Keluarga-keluarga Katolik diberi wejangan agar mereka tetap bersemangat pantang menyerah dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut.
Kepedulian Bapa Suci terhadap keluarga bukan hanya dalam Audiensi Umum saja. Tahun 2014, Bapa Suci sudah mengundang para Uskup dari seluruh dunia untuk mengadakan Sinode Luar Biasa dan membahas tantangan-tantangan yang dihadapi dan dialami oleh keluarga-keluarga pada zaman modern ini. Sinode Luar Biasa 2014 berlanjut dengan Sinode Biasa pada Bulan Oktober 2015 yang kembali membahas panggilan dan perutusan Keluarga Katolik di dalam Gereja dan di tengah dunia. Dalam kunjungan apostoliknya ke Amerika Serikat, Bapa Suci pun menyempatkan hadir dalam acara Hari Keluarga Sedunia di Philadelphia, Amerika Serikat. Beliau hadir dan menyapa umat Katolik Amerika.
Di tingkat nasional mengikuti arus besar Gereja Katolik Semesta yang memberi perhatian pada keluarga, Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) ke-4 yang berlangsung pada Tanggal 2-6 November 2015, juga memberi perhatian pada keluarga dengan mengambil tema : “KELUARGA KATOLIK : SUKACITA INJIL”. Tema tersebut juga semakin mengintensifkan upaya-upaya KWI dalam menangani perkara-perkara yang menyangkut keluarga. Dengan demikian KWI semakin menegaskan bahwa keluarga adalah jalan menuju kesucian dan kesempurnaan hidup kristiani. Itulah sukacita Injil. Ini merupakan penegasan bahwa keluarga memang layak semakin menjadi pusat perhatian Gereja Katolik Indonesia.
Dalam jumpa pers di Kantor KWI Jl. Cut Meutia Jakarta untuk menjelaskan ‘duduk perkara’ sekaligus latar belakang diadakannya hajatan iman bernama Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) 2015 Ketua Presidium Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Suharyo mengatakan bahwa keluarga adalah locus (tempat, lokasi) di mana setiap anggotanya ayah, ibu dan anak-anak mereka diharapkan bisa tumbuh dan berkembang hingga akhirnya menjadi pribadi-pribadi yang dewasa, matang, dan tak kalah penting juga punya watak kepribadian yang mulia.
Sejalan dengan pemikiran Bapa Suci dan KWI, Keuskupan Bogor pun memandang perlu mengangkat tema “KELUARGA BERSEMANGAT PANTANG MENYERAH”dalam permenungan Masa Prapaskah Tahun 2016 ini.
Keluarga Katolik dan Permasalahannya
Mengapa tema keluarga menjadi penting? Karena yang diinginkan Gereja Katolik, termasuk Gereja Katolik Indonesia, adalah sosok ideal keluarga Katolik. Namun, kalau bicara fakta dan kenyataan yang terjadi di masyarakat, maka sosok ideal Keluarga Katolik sangat sulit ditemui. Ibarat jauh panggang dari api, maka yang terjadi di masyarakat justru ada begitu banyak keluarga, termasuk keluarga-keluarga katolik yang tidak bisa berkembang seideal seperti yang diharapkan.
Di situ ada kisah perceraian. Lalu ada kenyataan bahwa begitu banyak keluarga hidup dalam suasana pas-pasan : miskin materi dan miskin kesempatan untuk bisa berkembang tubuh layaknya keluarga ideal yang diharapkan Gereja dan masyarakat.
Kita bisa membayangkan bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta ada begitu banyak keluarga yang untuk bisa tidur pun harus bergantian. Hanya punya satu dipan, maka ayah-ibu-anak harus bergantian tidur di kamar yang sempit karena memang lahan rumahnya juga sempit.
Keadaaan lebih memprihatinkan juga terjadi di banyak tempat. Misalnya di Keuskupan Larantuka di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Flores di mana banyak keluarga terpaksa ‘merelakan’ anggota keluarganya menjadi buruh migran di negeri jiran untuk keberlangsungan hidup. Maka di situ ada banyak hal yang memprihatinkan terjadi, termasuk di antara kekerasan seksual dalam keluarga.
Di kota-kota besar, persoalan keberadaan dalam keluarga juga terbentang lebar. Banyak anak-anak menjadi ‘korban’ kesibukan orangtuanya yang harus bekerja dan menghabiskan banyak waktunya di luar rumah. Sementara itu, anak-anak mereka benar-benar menjadi ‘anak pembantu’ karena proses pendidikannya tidak ada di tangan orangtua sendiri.
Secara garis besar, permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi oleh keluarga dikarenakan beberapa faktor :
- Faktor ekonomi : (keterbukaan pengelolaan keuangan, penghasilan pas-pasan, penghasilan berlebih kecurigaan)
- Faktor Psikososial: Ketidakpercayaan, kecurigaan, cemburu buta, iri hati, istri/suami terlalu aktif atau kurang aktif dalam kegiatan sosial/pelayanan, masalah dengan mertua/mantu/ipar; pola asuh keluarga suami istri yang beda (budaya, suku) mempengaruhi relasi antar suami istri mulai dari masalah selera makan, kebiasan sehari-hari dll; beda pendidikan yang jauh antara suami istri.
- Faktor Kebutuhan Biologis : PIL (pria idaman lain)/WIL (wanita idaman lain), hubungan seksual.
- Faktor Pendidikan: cara mendidik yang tidak sepaham, pendidikan yang memanjakan anak, beda pendidikan antara pasangan yang jauh.
Kasih Merupakan Dasar Semangat Keluarga Katolik
Syarat utama dan esensial yang diperlukan untuk membangun keluarga adalah kasih. Kasih merupakan sebuah pengalaman pribadi dan penuh misteri. Dalam pengalaman tersebut terjadi komitmen yang dibangun para anggota keluarga atas dasar kebebasan dan tanggung jawab.
Karena persekutuan hidup Keluarga Katolik mengandaikan adanya komitmen dari para anggotanya untuk mempertahankan keutuhannya, maka secara mutlak mensyaratkan adanya kasih yang mempersatukan mereka. Kasih menjadi dasar kehidupan bersama sebagai satu keluarga.
Konsekuensinya dapat dikatakan secara tegas bahwa para anggota keluarga tidak layak hidup bersama tanpa saling mengasihi. Maka keluarga yang dibangun bukan atas dasar saling mengasihi, melainkan demi status, gengsi, atau harta tentu tidak memiliki dasar yang kokoh.
Ada kalanya keluarga mengalami gejolak, terutama jika menghadapi hal baru atau mengalami perubahan situasi seperti telah diuraikan di atas. Gejolak tersebut terkadang mengakibatkan tergesernya perhatian terhadap kepentingan keluarga sendiri. Tetapi apabila segala kepentingan yang ingin diupayakan oleh keluarga, baik yang menyangkut kebutuhan intern maupun ekstern ditempatkan dalam semangat dan sikap dasar “demi dan atas nama kasih”, tidak perlu terjadi konflik.
Kasih bisa menjadi semangat, bahkan jaminan yang dapat mendatangkan sukacita, apabila diungkapkan melalui sikap-sikap : sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak sombong, adil percaya dan penuh pengharapan (bdk. 1Kor 13:4-7). Sebab sesungguhnya untuk menjadi bahagia dan menjadikan keluarga bahagia, mau tidak mau harus menjadi orang yang tepat bagi anggota keluarga lainnya, bukan mencari dan menuntut orang yang tepat dan serasi dengan dirinya.
Kasih yang dihayati bukan lagi “untuk mencari pribadi yang cocok, melainkan “menjadi pribadi yang cocok”. Love is not finding the right person, but is being the right person.
Pada intinya tujuan keluarga sejalan dengan tujuan perkawinan yang diarahkan untuk mengembangkan dan memurnikan kasih. Kasih yang telah ditempatkan sebagai dasar perlu terus menerus dipelihara, dipupuk , digairahkan, dikembangkan dan semakin disempurnakan.
Kasih yang sungguh berkembang maju di antara para anggota keluarga akan membangkitkan kreativitas dan keberanian mereka, bahwa apapun masalah yang dihadapi mereka tetap utuh, eksis dan harmonis. Kebahagiaan, kedamaian, keharmonisan, kesetiaan dan keutuhan adalah tanda otentik bahwa kasih di dalam keluarga sungguh hidup dan berkembang semakin murni.
Tidak ada sekolah lain yang dapat mengajarkan kebenaran kasih jika keluarga tidak melakukannya. Tidak ada sekolah yang lebih besar yang mengajari kita dibandingkan keluarga, yang adalah, dalam rencana Allah, sebuah berkah bagi dunia kita. Santo Paulus mengatakan kepada kita bahwa kasih yang melandasi keluarga merujuk pada ikatan kasih antara Kristus dan Gereja.
Keluarga Kudus : Keluarga Yang Pantang Menyerah
Keluarga Nazaret yang terdiri dari Yosef, Maria dan Yesus sering disebut Keluarga Kudus. Kekudusan keluarga tersebut tentunya pertama-tama karena kehadiran Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia dan tinggal bersama keluarga. Tetapi kekudusan keluarga itu juga ditunjang oleh perilaku saleh dan suci dari masing-masing pribadinya seperti terungkap dalam Injil.
Untuk memperoleh sedikit gambaran tentang Keluarga Nazaret, ada baiknya membaca Injil Matius dan Lukas yang memuat kisah masa kanak-kanak Yesus. Kedua Injil melukiskan Keluarga Kudus adalah keluarga yang taat hukum (bdk. Mat 1:19,20; 2:13,19,22; Luk 2:21; 4:16). Yesus digambarkan taat dalam didikan Yosef dan Maria. Dia belajar taat kepada kehendak Tuhan melalui ketaatan pada orangtua-Nya. Nazaret adalah sebuah rumah ketaatan terhadap kehendak Tuhan.
Dalam status sosial ekonomi seperti apakah Keluarga Nazaret melakukan ketaatan tersebut? Sewaktu Kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Maria dan Yosef mempersembahkan 2 ekor anak merpati atau burung tekukur sebagai kurban bakaran dan kurban penghapus dosa (Luk 2:24).
Kurban bakaran kambing atau domba diganti dengan anak merpati atau tekukur karena keluarga baru itu tidak mampu (bdk. Im 12:8). Demikian juga saat keluarga muda itu mengungsi ke Mesir, niscaya kemampuan ekonomi mereka serba terbatas.
Ketika Yesus sudah berkarya di depan umum dan kemudian tampil di Sinagoga Nazaret, orang-orang menyebut-Nya sebagai tukang kayu (Mrk 6:3) atau anak tukang kayu (Mat 13:55). Sebagai tekton, tukang kayu, Yosef menggergaji pohon yang mudah dikerjakan, membuang dengan cermat seluruh kulitnya, mengerjakannya sebagaimana mestinya, dan kemudian membuatnya menjadi perkakas yang berguna untuk keperluan hidup (Keb 13:11).
Tukang kayu bisa mengerjakan furnitur rumah tangga seperti ranjang, kursi, meja dan kaki dian (2 Raj 4:10). Status ekonomi tukang kayu pada masa itu adalah yang paling bawah dari kelas menengah penduduk Nazaret . Jadi, di Nazaret, keluarga ini bukan kelompok keluarga kurang mampu lagi seperti ketika kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah.
Dalam Mrk 6:3 Yesus tidak disebut sebagai anak tukang kayu, melainkan tukang kayu. Santo Yustinus Martir mengklaim bahwa Yesus pernah membuat bajak dan “pasangan”(kuk bajak). Yesus belajar keterampilan tukang kayu dari Yosef sendiri. Merupakan tugas seorang ayah untuk mengajarkan keterampilan sebagai bekal hidup kepada anak lelakinya, seperti terungkap dalam pengajaran para rabi, “Barangsiapa tidak mengajarnya keterampilan, mengajar dia merampok”(b. Qidd. 30b).
Perjanjian Baru tidak memberikan laporan apa yang terjadi dalam Keluarga Nazaret sejak Yesus berumur 12 tahun (setelah pulang dari Bait Allah) sampai Ia tampil di depan umum. Lukas hanya mencatat, “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2:52). Dari ayat ini kita bisa menyimpulkanYesus makin bertumbuh. Ini mengandaikan suatu proses yang tentunya membutuhkan waktu, tidak terjadi serba instan. Tidak terjadi peristiwa-peristiwa heboh dan spektakuler.
Keluarga Nazaret menjalani masa tersembunyi, jauh dari publikasi dan sensasi. Masa di mana Yesus makin mengalami kasih Allah dan manusia, terlebih oleh Maria dan Yosef, terjadi dalam keheningan dan keadaan serba biasa.
Yang menarik dari kehidupan Keluarga Kudus : mereka menjalani kehidupan dengan semangat pantang menyerah. Mereka bukan tanpa masalah tetapi masalah tersebut selalu dilihat dalam sudut pandang Allah. Segalanya dilihat sebagai sesuatu yang positif untuk kebaikan keluarga dalam rencana Allah. Mereka pasrah kepada Allah tetapi tidak konyol. Mereka pasrah sambil terus berusaha menemukan penyelesaiannya, pasrah sambil pantang menyerah, suatu kepasrahan aktif.
Di Manakah Peran Tuhan?
Jika kita mencermati Kitab Kejadian, kita akan mendapati kitab tersebut didominasi oleh kisah tentang keluarga. Maka tidak berlebihan jika kita mengambil salah satu kisah tentang keluarga tersebut karena kisah tersebut tetap relevan dengan masa kita.
Pada awalnya Kitab Kejadian menyuguhkan kepada kita, kisah “kejam”, kisah pembunuhan pertama dalam Kitab Suci, yaitu Kisah Kain dan Habel (Kej 4:1-16). Kisah tentang egoisme seorang manusia bernama Kain (dan kisah kita juga). Kisah keluarga yang menarik lainnya adalah Kisah Yakub dan Esau (Kej 26:27-36), sebuah kisah perkelahian perebutan hak kesulungan antar dua saudara kembar yang sudah terjadi sejak mereka dalam kandungan. Dalam kisah tersebut Yakub mengalami transformasi diri : dari egoisme menjadi pemberian diri.
Kitab Kejadian berakhir dengan kisah Yusuf dan keluarganya (Kej 37-50). Dikisahkan Yusuf hendak dibunuh oleh saudara-saudaranya karena mereka iri (bdk. Kej 37:18). Atas usul Yehuda, Yusuf tidak jadi dibunuh oleh saudara-saudaranya, dan akhirnya dijual sebagai budak kepada Orang Ismael (bdk. Kej 37:26-28). Yusuf terdampar sebagai budak di Mesir. Namun Yusuf akhirnya bisa menjadi penguasa di Mesir.
Drama keluarga Yusuf masih berlanjut ketika kekeringan melanda Tanah Kanaan (bdk. Kej 42). Akibat kekeringan tersebut keluarga Yusuf harus mengungsi ke Mesir untuk mencari gandum. Tanpa mereka sadari ternyata mereka bertemu Yusuf yang dahulu mereka ingin bunuh. Inilah puncak drama tersebut. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya yang tidak mengenalnya lagi : “Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir”(Kej 45:3-4).
Yang mengejutkan, ternyata Yusuf tidak membalas dendam. Maka keluarlah kata-kata yang mungkin merupakan kata-kata terindah dalam Kitab Suci : “Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah, Allah menyuruh aku mendahului kamu.
Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”(Kej 45:5-8).
Meski mendapat perlakuan buruk, Yusuf tidak membalas dendam. Malahan sekarang ia menjadi “goél”, mampu menebus, menjadi penyelamat saudara-saudaranya dari ancaman kemiskinan, kesengsaraan dan kematian. Ia memberikan dirinya untuk kebaikan keluarganya.
Tetapi, mengapa Tuhan sama sekali tidak muncul (berbicara) dalam kisah Yusuf? Jika kita mencermati sekali lagi kisah Yusuf dan keluarganya, Tuhan justru hadir dalam diri Yusuf, dan Ia berbicara lewat kebaikan Yusuf kepada saudara-saudaranya. Betapa indah pula jika keluarga-keluarga menyadari kehadiran Tuhan lewat berbagai peristiwa yang dialaminya, entah peristiwa bahagia entah peristiwa sedih. Percayalah, Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk manusia dengan membentuknya menjadi keluarga.
Penutup
Tentu saja, APP bukan tentang menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan keluarga, melainkan mencoba melihat mereka dalam terang Injil, membawa sukacita harapan tanpa jatuh ke dalam pengulangan tanpa upaya dari apa yang jelas atau yang telah dikatakan.
Tentunya APP bukan tentang menemukan penyelesaian menyeluruh atas semua kesulitan dan ketidakpastian yang menantang dan mengancam keluarga, melainkan tentang melihat kesulitan dan ketidakpastian ini dalam terang iman, dengan seksama mempelajari mereka dan menghadapi mereka tanpa rasa takut, tanpa mengubur kepala kita di pasir.
APP mendesak kita semua untuk menghargai pentingnya lembaga keluarga dan lembaga perkawinan antara seorang pria dan seorang wanita, berdasarkan kesatuan dan tak terceraikan, serta menghargainya sebagai landasan dasariah kehidupan masyarakat dan manusia.
Pertobatan, karya dan upaya manusia perlu mengambil sebuah makna yang lebih dalam, bukan karena harga keselamatan cuma-cuma yang dimenangkan bagi kita oleh Kristus di kayu salib itu, tetapi sebagai sebuah tanggapan terhadap Dia yang pertama-tama mengasihi kita dan menyelamatkan kita dengan harga darah-Nya yang tak berdosa, sementara kita masih berdosa (bdk Rm 5:8).
Tugas pertama Gereja bukan untuk menjatuhkan penghakiman atau kutukan, tetapi untuk memberitakan belas kasih Tuhan, memanggil kepada pertobatan, dan menuntun semua pria dan wanita kepada keselamatan di dalam Tuhan (bdk. Yoh 12:44-50).
Beato Paulus VI mengungkapkan hal ini secara fasih : "Kita bisa membayangkan, kemudian, bahwa dosa-dosa kita, upaya-upaya kita masing-masing untuk berbalik kepada Allah, mengobarkan di dalam diri-Nya nyala api kasih yang lebih intens, keinginan untuk membawa kita kembali kepada diri-Nya dan kepada rencana penyelamatan-Nya ... Allah, di dalam Kristus, menunjukkan diri-Nya adalah kebaikan yang tak terbatas ... Allah baik.
Tidak hanya di dalam diri-Nya; Allah marilah kita mengatakannya dengan air mata baik kepada kita, Ia mengasihi kita, Ia mencari-cari kita, Ia memikirkan kita, Ia mengenal kita, Ia menjamah hati kita, dan Ia menunggu kita. Ia akan dapat dikatakan senang pada hari ketika kita kembali dan berkata : 'Tuhan, dalam kebaikan-Mu, ampunilah aku'. Maka pertobatan kita menjadi sukacita Allah".
Santo Yohanes Paulus II juga menyatakan bahwa: "Gereja menghayati sebuah kehidupan yang otentik ketika ia mengaku dan memberitakan belas kasih ... dan ketika ia membawa umat mendekat ke sumber-sumber belas kasih Sang Juru Selamat, yang mana ia adalah orang kepercayaan dan penyalurnya".
Paus Benediktus XVI, juga, mengatakan: "Belas kasih memang merupakan inti utama pesan Injil; ia sesungguhnya adalah nama Allah ... Semoga semua yang dikatakan dan dilakukan Gereja yang mengejawantahkan belas kasih Allah terasa bagi umat manusia.
Ketika Gereja harus mengingat sebuah kebenaran yang belum diakui, atau sebuah kebaikan yang dikhianati, ia selalu begitu terdorong oleh kasih yang penuh kemurahan, sehingga orang dapat memiliki hidup dan memilikinya secara berlimpah (Yoh 10:10)".
Bogor, 8 November 2015
Biro APP Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Bogor
PERTEMUAN I
TANTANGAN KELUARGA KATOLIK MASA KINI
Tujuan : Umat menyadari dan memahami bahwa seideal apapun keluarga Katolik selalu menghadapi tantangan-tantangan yang berbeda.
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
Tanda Salib dan Salam
P : † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Tuhan beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Tema keluarga masih menjadi topik yang penting dalam permenungan Masa Prapaskah ini. Gereja Katolik menginginkan setiap keluarga katolik mampu mewujudkan keluarga Katolik yang ideal dan hidup seturut sabda Allah.
Tetapi pada kenyataannya, yang sering terjadi dalam hidup keluarga masa kini, Keluarga Katolik yang ideal dan sejati sangat sulit ditemui. Banyak keluarga-keluarga katolik yang tidak berkembang seturut nasihat injil.
Kenyataan itu dikuatkan dengan fakta perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemiskinan, dan masalah-masalah lainnya.
Hal-hal memprihatinkan ini terjadi bukan hanya di perkotaan namun juga di pedesaan yang jauh dari pendidikan keluarga benar dan sejati. Tentu banyak faktor yang menyebabkan permasalahan itu terjadi seperti, ekonomi, psikologis, pendidikan dan faktor-faktor lainnya.
Maka dalam pertemuan ini, kita diharapkan mampu menjadi keluarga-keluarga yang hidup seturut nasihat injil dan pada akhirnya menjadi keluarga yang benar dan sejati.
Pernyataan Tobat
P: Saudara-saudari, sebelum kita mendengarkan Sabda Allah dan merenungkannya, marilah kita menyiapkan diri dengan mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita.
− hening sejenak −
P: Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Engkau mendorong kami untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Kristus, kasihanilah kami.
U: Kristus, kasihanilah kami.
P: Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana dan mensyukuri segala anugerah-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.
Doa Pembukaan
P: Marilah kita berdoa (bersama-sama)
P+U : Ya Allah kami bersyukur kepada-Mu, karena Engkau telah menganugerahkan masa tobat ini. Kami ingin bertobat dari kecenderungan-kecenderungan yang jahat yang dapat memudarkan iman kami. Bukalah hati kami bagi sabda-Mu, dan teguhkanlah niat kami dalam Masa Prapaskah ini sehingga kami mampu mengubah hati kami menjadi semakin berkenan pada-Mu dan pada sesama. Demi Yesus Kristus Putera-Mu, Tuhan dan pengantara kami yang bersama dengan Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
PENDALAMAN IMAN
Kisah Kehidupan
Mirza adalah anak dari sebuah keluarga pengusaha yang cukup terkenal dan terpandang. Dia pria yang cukup tampan dan menarik perhatian para wanita, dikarenakan parasnya yang keturunan Pakistan. Dia berumur sekitar 23 tahun. Dia kuliah di suatu universitas swasta terkemuka di Jakarta.
Di Universitas tersebut dia memiliki seorang kekasih yang bernama Sarah. Sarah selalu membuat Mirza semangat dan selalu ada ketika Mirza sedang susah atau senang.
Situasi di rumah dan di luar rumah sangat berbeda 180 derajat. Di rumah dia menjadi sosok yang pendiam dan penyendiri, namun ketika dia bersama Sarah dia menjadi sosok yang ceria dan dewasa.
Dia sering kali menceritakan kepada Sarah tentang keadaan keluarganya yang membuat tidak betah di rumah. Sarah selalu memberi semangat agar Mirza selalu tabah dan sabar menghadapi keluarganya.
Di rumah, kedua orang tua Mirza tidak memperhatikan secara kasih sayang, tetapi hanya secara material. Sejak kecil dia dirawat oleh pembantunya tetapi pembantunya sekarang sudah renta dan tidak mampu merawat Mirza.
Ayah Mirza adalah seseorang yang sangat sibuk tidak pernah ada di rumah, selalu mengurusi pekerjaannya sedangkan ibunya sibuk mengurusi perusahaan yang ada di luar kota.
Mirza sangat sedih ketika dia berada di rumah, sepi sendiri di rumah. Dia selalu mengatakan “untuk apa aku dilahirkan jika hanya ditelantarkan”.
Orang tuanya hanya memberikan uang untuk kebutuhan hidupnya. Dia selalu berkata kepada orang tuanya, “Mengapa ibu tidak pernah mengajakku pergi keluar untuk hanya sekedar pergi makan siang atau makan malam? , apa aku sudah tidak dianggap sebagai anakmu?” dan ibunya menjawab, “Mama dan Papa seperti ini bekerja dari pagi sampai malam untuk kamu, untuk pendidikan kamu dan masa depan kamu”.
Mirza hanya terdiam saat mendengar kata-kata dari ibunya. Yang ia butuhkan bukan hanya materi tetapi kasih sayang dari seorang ibu dan ayah seperti keluarga lain.
Beberapa bulan kemudian kabar buruk menghampiri Mirza. Sarah pergi meninggalkannya karena Sarah tidak merasa nyaman dengan keluarga Mirza yang seperti itu. Mendengar kabar itu pun Mirza terpuruk, sangat sedih harus ditinggalkan kekasihnya yang sangat dia cintai. Stress pun dihadapinya, sekarang dia tidak mempunyai siapa-siapa yang bisa menemaninya. Mirza selalu sendiri, pemurung, dan temperamental. Tidak ada yang mau dekat dia karena takut dengannya.
Saat itu orang tuanya tahu bahwa Mirza stress. Karenanya kedua orang tuanya pun membawa Mirza ke rumah sakit Katolik terdekat. Setelah dibawa ke rumah sakit Katolik, Mirza tidak tahan dengan keadaan di sana, dia selalu memberontak dan marah jika didekati.
Perawat di sana memberi tahu orang tuanya bahwa Mirza kurang kasih sayang dan perhatian dari orang-orang terdekatnya termasuk kedua orangtuanya. Mengetahui hal tersebut kedua orangtuanya menyesal karena telah menelantarkan anak kandungnya sendiri.
Tiga bulan Mirza dirawat di rumah sakit Katolik, dia pun mendapat perawatan yang efektif untuk menghadapi stressnya. Mirza merasa mempunyai keluarga baru karena di sana dia diperhatikan dan dirawat dengan baik, tidak seperti di rumahnya yang selalu diabaikan dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya.
Orangtuanya pun meminta maaf kepada Mirza yang telah menelantarkannya. Akhirnya, Mirza kembali pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan dia pun merasakan kasih sayang orangtuanya kembali yang dulu pernah hilang.
Bacaan Kitab Suci (Rut 1:1-22)
- Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
- Nama orang itu ialah Elimelekh, nama isterinya Naomi dan nama kedua anaknya Mahlon dan Kilyon, semuanya orang-orang Efrata dari Betlehem-Yehuda; dan setelah sampai ke daerah Moab, diamlah mereka di sana.
- Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya.
- Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.
- Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya.
- Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.
- Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke Tanah Yehuda,
- berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: "Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasih-Nya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku;
- kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya." Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras
- dan berkata kepadanya: "Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu."
- Tetapi Naomi berkata: "Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti?
- Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki,
- masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?"
- Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.
- Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."
- Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
- di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!"
- Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya.
- Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: "Naomikah itu?"
- Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.
- Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku."
- Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Dialog Interaktif
Berdasarkan Kisah Kehidupan dan Bacaan Kitab Suci
- Menurut Anda, tantangan apa yang terjadi dalam keluarga Mirza dalam Kisah Kehidupan di atas?
- Menurut Anda, tantangan apa yang terjadi dalam keluarga Elimelekh-Naomi dalam bacaan Kitab Suci di atas?
- Apakah tantangan-tantangan yang dialami keluarga Mirza dan keluarga Elimelekh-Naomi kerap terjadi dalam keluarga Katolik masa kini? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
- Apakah Anda (dan keluarga Anda) pernah mengalami hal serupa dua kisah di atas? Sharing-kan!
- Dari tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Anda (dan keluarga Anda), dampak apa yang Anda rasakan?
POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
Ibarat kapal yang diterjang badai di lautan, dunia saat ini diguncang badai kemerosotan nilai-nilai moral. Bahaya ini juga mengancam keluarga-keluarga, termasuk keluarga-keluarga Katolik.
Sebenarnya 30 tahun yang lalu, Gereja Katolik, melalui Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (tentang Peranan keluarga Kristiani dalam dunia modern), telah memberikan arahan agar keluarga-keluarga Katolik dapat bertahan terhadap ancaman kemerosotan moral, dengan menjadikannya sarana untuk menguduskan para anggotanya.
Dengan demikian keluarga dapat bertahan terhadap badai kehidupan dunia ini, yang cenderung merendahkan tujuan perkawinan dan keluarga. Namun, sayangnya seruan Familiaris Consortio kurang terdengar atau kurang didengarkan, sehingga banyak pasangan suami istri yang memasuki hidup perkawinan tanpa memahami makna perkawinan yang sesungguhnya. Inilah sebabnya ada banyak perkawinan Katolik yang gagal, atau kandas di tengah jalan. Sudah saatnya kita mengamalkan seruan Familiaris Consortio, sehingga keluarga dapat dibangun di atas dasar yang kuat, yaitu atas dasar cinta kasih seturut kehendak Tuhan.
Kisah Rut yang sudah kita baca ini, memperlihatkan sebuah keluarga yang taat dan setia kepada Tuhan. Naomi adalah pengikut setia Tuhan, namun dalam hidupnya ia mengalami penderitaan serta kemalangan yang besar. Berbagai masalah dialaminya, mulai dari kelaparan di tanah kelahirannya, kehilangan suaminya, bahkan ia pun kehilangan kedua putranya juga. Seakan-akan Allah mencampakkan keluarga Naomi ini.
Namun, sesungguhnya dalam kisah ini Allah memelihara orang-orang yang setia dan taat pada-Nya. Naomi memang merasa kemalangannya menunjukkan bahwa Allah seperti tidak lagi berkenan pada diri dan keluarganya. Namun pengalaman ini bukan berarti ketika orang yang setia dan taat kepada Tuhan akan terlepas dari segala cobaan, tetapi justru oleh karena pencobaan itu, Allah mau memurnikan seluruh hidup para pengikut-Nya dan mengarahkannya pada kemuliaan yang mahatinggi.
Kisah Rut dan Naomi ini juga memuat banyak nilai-nilai yang terkandung untuk membangun sebuah keluarga katolik yang sejati, khususnya dalam menghadapi tantangan pada masa kini. Kitab ini menekankan pengabdian dan kasih tanpa pamrih yang ada di antara Naomi dan Rut sambil mengajar kita bahwa kesalehan sejati selalu mencakup kasih yang memperhatikan dan pengorbanan pribadi bagi anggota keluarga.
Sikap menerima dan juga tetap terus berjuang di dalam kesulitan pun menjadi teladan yang diberikan oleh Naomi dan Rut kepada kita. Seluruh teladan dan nasihat yang diberikan Naomi kepada Rut pun juga telah membuat hidup Rut lebih bermakna dan semakin dekat dengan Tuhan. Iman Rut dan kesetiaannya pada Allah membuat ia pun juga setia untuk menemani Naomi yang sedang dilanda derita dan kesusahan.
Saudara-saudari dalam Kristus, melalui pertemuan pertama pada Masa Prapaskah ini, kita semua diajak untuk bersama-sama melihat tantangan-tantangan yang terjadi dalam keluarga Katolik. Hidup perkawinan atau rumah tangga yang tidak terlepas dari permasalahan bahkan seringkali mengancam keutuhan keluarga.
Seringkali seperti kisah Mirza di atas pun terjadi di dalam kehidupan keluarga-keluarga masa kini. Mengapa tema keluarga menjadi penting dalam pertemuan Masa Prapaskah ini, karena yang diinginkan Gereja Katolik adalah sosok ideal keluarga Katolik.
Bisa dibayangkan bahwa di kota-kota besar bahkan juga sudah merambah ke kampung, orang-orang sudah terbius dengan kemajuan teknologi yang merenggangkan hubungan keluarga dan memunculkan permasalahan-permasalahan yang sangat serius.
Persoalan keberadaan dalam keluarga semakin terbentang lebar.
Sekarang tugas kita adalah mengembalikan kesejatian keluarga-keluarga Katolik, dan harus dimulai dari saat ini juga dan dari diri kita sendiri sebagai anggota-anggota keluarga kita.
Secara garis besar, permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi oleh keluarga dikarenakan beberapa faktor:
- faktor ekonomi seperti keterbukaan pengelolaan keuangan, penghasilan yang minim, kecurigaan terhadap penghasilan yang berlebih.
- Faktor psikososial juga menjadi penyebabnya yakni soal ketidakpercayaan kecurigaan, cemburu buta, iri hati, istri/suami terlalu aktif atau bahkan kurang aktif dalam kegiatan sosial/pelayanan, masalah dengan anggota keluarga besar, pola asuh keluarga suami- istri yang beda budaya suku, mempengaruhi relasi antar suami-istri mulai dari masalah selera makan, kebiasaan sehari-hari, pendidikan yang berbeda jauh, persepsi yang yang berbeda dan menimbulkan perpecahan. Faktor pendidikan seperti cara mendidik yang tidak sepaham, pendidikan yang memanjakan anak, beda pendidikan antara pasangan yang jauh.
Tantangan-tantangan seperti kemerosotan moral, kemerosotan spiritual dan kehidupan yang dialami oleh Naomi dan keluarganya, yang juga terjadi pada kisah Mirza seringkali masih terjadi di masa ini. Muncul kebimbangan serta kehilangan arah dalam hidup.
Tetapi hal yang harus tetap dipegang sebagai pedoman sebuah keluarga adalah setia dalam mengimani Allah di seluruh peristiwa hidup. Cinta dan kesetiaan pun menjadi syarat untuk menjaga keutuhan sebuah keluarga.
Semoga di Masa Prapaskah ini seluruh pribadi dikuatkan untuk melakukan apa yang berkenan pada Allah dan tetap setia untuk membangun keluarga yang utuh.
Dengan demikian berbagai tantangan dan cobaan yang muncul dalam hidup kita akan bisa dihadapi dengan mudah, karena sesungguhnya Tuhan Allah tidak akan pernah meninggalkan kita berjalan sendirian. Allah yang memulai maka Allah pula yang akan menyediakan semua yang kita butuhkan selama kita tetap setia terhadap Putera-Nya yang terkasih Yesus Kristus.
Pada waktu yang tepat, Allah memberikan ganjaran yang indah bagi kita semua, ketika kita terus berjuang menghadapi berbagai tantangan di dunia ini dengan iman kepada Allah dan kesetiaan yang tiada henti.
Maka dalam pertemuan ini kita diajak untuk melihat satu gambaran bahwa keluarga hendaknya hidup di dalam kerukunan anggota keluarga dan hidup di dalam cinta kasih pengampunan keluarga.
Bertepatan dengan Tahun Kerahiman kita diajak untuk membentuk keluarga sebagai rahim yang memberikan kehangatan, kenyamanan serta pengampunan yang tulus dan tiada henti. Dengan cara ini, keluarga akan menjadi satu bangunan yang kokoh, kuat, tangguh, berani dan akhirnya siap dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi baik secara pribadi maupun secara bersama-sama oleh keluarga itu sendiri.
DOA UMAT
P: Allah Bapa yang Mahabaik, Engkau menghendaki agar keluarga-keluarga Katolik yang telah Engkau bangun melalui perkawinan sah dan sakramental dapat hidup bahagia. Bapa dengarkanlah doa dan permohonan umat-Mu ini.
L: Ya Allah, bersihkanlah kami dari sikap sombong dan meninggikan diri. Semoga kami hidup dengan rendah hati demi kepentingan sesama manusia. Marilah kita mohon..
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya Bapa, bebaskanlah kami dari segala dosa dan kejahatan yang mendatangkan kebinasaan. Semoga kami berpegang pada perjanjian-Mu, sehingga layak mengalami kasih setia dan karunia-Mu. Marilah kita mohon..
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya Bapa, lindungilah kami bila dianiaya, disiksa dan diperbudak. Dengarkanlah seruan kami dan bebaskanlah kami dengan tangan-Mu yang kuasa serta lengan-Mu yang kuat. Marilah kita mohon..
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya Allah, semoga dengan Masa Prapaskah ini kami dapat meniru teladan Yesus Putera-Mu dan mempersiapkan diri bagi tugas perutusan kami di dunia ini. Marilah kita mohon..
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P: Marilah kita berdoa bersama-sama.
P+U : Doa Untuk Keluarga
Puji Syukur, No. 162
Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini. Semoga keluarga kami selalu Kau dorong untuk meneladan keluarga kudus Nazaret.
Semoga keluarga kami tumbuh menjadi keluarga Kristen yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih : kasih akan Dikau dan kasih antar semua anggota keluarga.
Ajarlah kami hidup menurut Injil, yaitu rukun, ramah, bijaksana, sederhana, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling membantu dengan ikhlas hati.
Hindarkanlah keluarga kami dari marabahaya dan malapetaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami sekeluarga menghadapi masalah-masalah.
Bantulah kami agar tetap bersatu padu dan sehati sejiwa; hindarkan kami dari perpecahan dan percekcokan.
Jadikanlah keluarga kami ibarat batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu menjadi Tubuh Kristus yang rukun dan bersatu padu.
Berilah kepada keluarga kami rezeki yang cukup. Semoga kami sekeluarga selalu berusaha hidup lebih baik di tengah-tengah jemaat dan masyarakat.
Jadikanlah keluarga kami garam dan terang dalam masyarakat. Semoga keluarga kami selalu setia mengamalkan peran ini, kendati harus menghadapi aneka tantangan.
Ya Bapa, kami berdoa pula untuk keluarga yang sedang dilanda kesulitan. Dampingilah mereka agar jangan patah semangat. Terlebih kami sangat prihatin untuk keluarga-keluarga yang berantakan. Jangan biarkan mereka ini hancur. Sebaliknya berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk membangun kembali keutuhan keluarga.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, Bapa keluarga umat manusia, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
P: Saudara-saudara marilah dengan hati yang mantap kita memohon datangnya Kerajaan Allah di dunia ini dengan mengucapkan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri….
U: Bapa Kami…
PENUTUP
Doa Penutup
P: Allah yang Mahabaik, setelah mendengarkan sabda-Mu, bantulah kami dalam Masa Prapaskah ini untuk hidup lebih sederhana agar dapat mengamalkan sabda-Mu di dalam keluarga dan di komunitas kami, serta dalam pergaulan kami sehari-hari dalam masyarakat. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang bersama dengan Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
U: Amin.
Berkat Pengutusan
P: Marilah kita mohon berkat Tuhan, supaya segala upaya kita menyiapkan perayaan Paskah mencapai hasil seperti yang kita harapkan dan supaya semoga keluarga kita semakin dapat hidup dan pantang menyerah dengan menghayati nasihat-nasihat Injil.
− hening sejenak −
P: Semoga dalam Masa Prapaskah ini, Allah meneguhkan iman kita.
U: Amin.
P: Semoga Allah mendorong kita supaya lebih giat mengamalkan nasehat-nasehat injil kepada sesama, khususnya di dalam keluarga masing-masing.
U:Amin.
P: Semoga kita semua yang hadir di sini diberkati oleh Allah yang Mahakuasa, dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.
Lagu Penutup
PERTEMUAN II
KASIH SEBAGAI DASAR SEMANGAT
KELUARGA KATOLIK
Tujuan : Umat menyadari dan memahami bahwa kasihlah yang mendasari semangat keluarga Katolik untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup.
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
Tanda Salib dan Salam
P: † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih Allah senantiasa menyertai kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Saudara dan saudari terkasih, setelah pada pertemuan pertama kita mendalami sub tema “Tantangan Keluarga Katolik Masa Kini” maka kini pada pertemuan kedua kita mendalami bagaimana kasih sebagai dasar semangat dalam hidup berkeluarga.
Tantangan dalam kehidupan kita terkadang menyulitkan dan membuat kita patah arah. Namun kita perlu melihat kembali lebih ke dalam, bahwa kasih menjadi dasar semangat dalam hidup kita. Kasih sebagai penolong hidup kita, kasih sebagai pengarah hidup kita. Ibarat kita memasak sayur tanpa menggunakan garam, maka sayur itu akan terasa hambar. Sama halnya ketika kita di dalam hidup ini, bila tidak memiliki kasih maka hidup terasa hambar, tak bergairah, tanpa semangat.
Pernyataan Tobat
P: Saudara-saudari, sebelum kita mendengarkan Sabda Allah dan merenungkannya, marilah kita menyiapkan diri dengan mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita.
− hening sejenak −
P: Engkau mengajak kami untuk bertobat, menyesali kekurangan dan dosa-dosa kami. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Engkau mendorong kami untuk melepaskan diri dari belenggu nafsu yang menyesatkan. Kristus, kasihanilah kami.
U: Kristus, kasihanilah kami.
P: Engkau mengajar kami untuk hidup sederhana dan mensyukuri segala anugerah-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.
Doa Pembukaan
P: Marilah kita berdoa (bersama-sama)
P+U : Allah yang Maharahim, sejak dahulu hingga sekarang Engkau senantiasa mendampingi umat-Mu di dalam hidup ini. Kami sebagai anggota umat-Mu memohon berkat dalam hidup ini, agar senantiasa saling memberikan kasih. Bapa buatlah kami senantiasa mengasihi satu sama lain dengan tulus agar seturut kehendak-Mu. Semua ini kami hantarkan dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan dan Guru kasih kami. Amin.
PENDALAMAN IMAN
Kisah Kehidupan
Kasihmu Sungguh Luar Biasa
Suatu ketika ada sebuah keluarga kecil yang bernama Keluarga Situmorang. Keluarga ini beranggotakan 3 orang, yaitu Bapak Christo, Ibu Marini dan Severus.
Severus adalah anak Bapak Christo dan Ibu Marini yang diangkat 17 tahun yang lalu. Bapak Christo dan Ibu Marini tidak dikaruniai anak karena Ibu Marini memiliki penyakit kanker rahim. Oleh sebab itu rahim Ibu Marini diangkat.
Pada awalnya, Bapak Christo tidak mampu menerima kenyataan ini, terlebih ia keturunan Batak. Namun, Bapak Christo tidak meninggalkan istrinya dan memilih untuk mengangkat anak dari Panti Asuhan Santo Yusuf Sindanglaya Cianjur.
Hari terus berlalu, perkawinan mereka tergolong perkawinan yang menjadi teladan banyak orang. Ketika Severus menginjak usia 17 tahun, perusahaan Bapak Christo bangkrut dan keadaan mereka berubah 180 derajat.
Dahulu kehidupan mereka berkecukupan, tetapi kini harus mengalami pergolakan hidup. Saat itu juga, mereka butuh biaya yang besar untuk kuliah Severus.
“Pah, aku akan kuliah kan?”, tanya Severus.
“Nak, mengapa engkau bertanya demikian? Apapun yang terjadi, kamu harus tetap kuliah! Mau badai sekalipun, Bapakmu akan berusaha untuk kau!”, ucap Bapak Christo.
“Pah, tapi bagaimana bisa kita kuliahi Christo, kita tidak punya apa-apa lagi. Rumah pun sekarang hanya gubug reot”, ungkap Ibu Marini.
Pada akhirnya, Bapak Christo bekerja apapun demi keluarga ini. Ia menjadi kuli bangunan, menjadi tukang becak, tukang panggul, dan penjual asongan. Ia bekerja serabutan, dan semua dilakukan untuk keluarga.
Akhirnya, Severus mampu berkuliah hingga lulus, dan menjadi CEO di perusahaan tambang terkenal di Indonesia.
Pada wawancara di televisi, ia diberikan pertanyaan oleh presenter.
“Bapak Severus, boleh Anda ceritakan resep hidup Anda sehingga menjadi pengusaha yang berhasil seperti saat ini?”, tanya Najwa Shihab.
“Mbak Najwa, saya gak punya resep.. tapi yang membuat saya seperti ini sampai saat ini, ialah kasih kedua orang tua saya”, jawab Severus. “Saya adalah anak angkat dari keluarga Christo Situmorang, mereka begitu mengasihi saya, seperti anak kandungnya. Saya bahagia karena mereka benar-benar membesarkan saya. Karena kasihnya, saya benar-benar menjadi sekarang. Terkesan untuk saya, ketika Bapak bangkrut dan ia benar-benar berkorban untuk kami. Sebagai anggota keluarga, ibu dan saya pun membantu kerja juga. Kini mereka telah di surga, yang saya lakukan kini ialah membagikan kasih buat orang lain juga, sama seperti Allah telah mengasihi keluarga saya”.
Bacaan Kitab Suci (1 Kor 13:1-13)
- Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
- Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
- Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
- Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
- Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
- Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
- Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
- Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
- Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.
- Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.
- Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
- Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
- Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.
Dialog Interaktif
Berdasarkan Kisah Kehidupan dan Bacaan Kitab Suci
- Sehubungan dengan sub tema pertemuan 2, apa yang membuat Anda terkesan setelah membaca kisah kehidupan Keluarga Situmorang?
- Apa yang Anda pahami mengenai kasih melalui bacaan 1 Kor 13:1-13?
- Dari kedua bacaan di atas (Kisah Kehidupan dan Bacaan Kitab Suci), apakah ada benang merah antara kasih dan semangat keluarga Katolik? Jika ada, bagaimana mengaitkannya?
- Apakah Anda (dan keluarga Anda) pernah mengalami bahwa kasih dalam keluarga adalah dasar semangat keluarga dalam menghadapi tantangan-tantangan dalam kehidupan? Silahkan di-sharing-kan!
- Bagaimana cara menumbuhkan kasih yang membangkitkan semangat dalam keluarga?
POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
Gereja Katolik mengajarkan tiga keutamaan dalam hidup, yaitu iman, harapan dan kasih. Berdasarkan Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus, kasih adalah keutamaan yang paling besar.
Pada pertemuan pertama, kita telah merenungkan bagaimana tantangan dalam keluarga menjadi halangan dan sekaligus cara untuk seseorang bertumbuh dan berkembang dalam hidup. Allah sendiri menghendaki bagaimana manusia akhirnya menemukan jalan keluarnya. Pada saat ini, kita telah menemukan jalan keluar yang ampuh yaitu kasih.
Rasul Paulus mengatakan berbagai arti mengenai kasih. Kasih itu murah hati, kasih itu sabar, kasih itu tidak sombong dan sebagainya.
Penjelasan ini menguatkan bahwa kasih benar-benar murni. Kasih mengalahkan segala hal yang negatif. Tentunya kasih tidak lahir dari ego pribadi sendiri, melainkan berdasarkan kepentingan bersama. Semua itu diarahkan dalam kepentingan keluarga.
Bagaimana keluarga harus berdasarkan kasih. Ketika ada tantangan apapun, keluarga mencari jalan keluarnya dengan kasih. Kita pun dapat melihat dari pengalaman saudara-saudari bagaimana hidup dalam keluarga sangat indah, bila dihiasi dengan kasih.
Yesus sendiri hadir di tengah kita karena kecintaan-Nya kepada manusia. Ia rela wafat di kayu salib, karena kasih yang begitu besar.
Begitu juga pengalaman Bapak Situmorang yang hadir sebagai teladan. Apapun diupayakan demi anak dan istrinya. Ia mencintai anggota keluarganya melebihi apapun. Tentu Bapak ini menyadari bahwa ia dikasihi oleh Allah, dan ia harus mengasihi orang lain seperti ia dikasihi Allah.
Pada pertemuan ini, marilah kita semua benar-benar menyadari bahwa kasih sangat berpengaruh dalam hidup keluarga kita, terutama semangat keluarga. Kita dikasihi karena Allah benar-benar mengasihi kita. Allah adalah kasih, dan kita perlu mewartakannya kepada keluarga, dan orang lain.
Sanggupkah kita mengasihi sesama kita lebih dari pada sekarang? Mampukah kita menghayati semangat kasih yang diajarkan Rasul Paulus?
Yesus mencintai Anda dan keluarga Anda, serta Anda dan keluarga Anda harus mewartakannya.
DOA UMAT
P: Saudara-saudari yang terkasih, marilah pada kesempatan ini, kita mawas diri sejenak untuk bersyukur dan memuliakan Tuhan. Kiranya kita mampu membawa kerahiman Allah kepada anggota keluarga kita. Marilah kita membuka diri kita, agar Allah senantiasa memberikan kerahiman kepada kita. Oleh karena itu, marilah kita dengan rendah hati kita sampaikan doa-doa permohonan kita :
L: Allah yang Maha Pengasih, bukalah hati dan pikiran kami sebagai keluarga-keluarga Katolik, supaya kami semakin menyadari tugas mulia daripada-Mu untuk memelihara keluarga kami dengan kasih yang abadi. Marilah kita mohon….
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya Bapa, tanamkanlah cinta kasih sejati di dalam diri kami masing-masing agar kami mampu menghayati cinta-Mu di dalam keluarga kami. Marilah kita mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya, Bapa, tolonglah keluarga-keluarga yang belum merasakan kerahiman-Mu. Mereka yang terpecah belah dan menyendiri sehingga mereka berbalik arah meninggalkan-Mu. Tuntunlah mereka, agar mereka mampu merasakan kasih dan cinta-Mu di dalam hidup ini. Marilah kita mohon….
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Marilah kita sampaikan ujud atau itensi kita masing-masing
(hening)
Ya Bapa, kami percaya bahwa Engkau selalu setia kepada kami umat-Mu walaupun kadang kami tidak setia pada-Mu. Itulah doa dan permohonan kami. Kami percaya dengan pertolongan rahmat-Mu, kami senantiasa diberikan kerahiman-Mu. Dan Kiranya Engkau mengabulkan doa kami, dengan penyertaan Yesus Kristus kini dan sepanjang masa.
U: Amin.
P: Marilah kita berdoa bersama-sama.
P+U : Doa Untuk Keluarga
Puji Syukur, No. 162
Ya Allah, Bapa sekalian insan, Engkau menciptakan manusia dan menghimpun mereka menjadi satu keluarga, yakni keluarga-Mu sendiri. Engkau pun telah memberi kami keluarga teladan, yakni keluarga kudus Nazaret, yang anggota-anggotanya sangat takwa kepada-Mu dan penuh kasih satu sama lain. Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini. Semoga keluarga kami selalu Kaudorong untuk meneladan keluarga kudus Nazaret.
Semoga keluarga kami tumbuh menjadi keluarga Kristen yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih : kasih akan Dikau dan kasih antar semua anggota keluarga.
Ajarlah kami hidup menurut Injil, yaitu rukun, ramah, bijaksana, sederhana, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling membantu dengan ikhlas hati.
Hindarkanlah keluarga kami dari marabahaya dan malapetaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami sekeluarga menghadapi masalah-masalah. Bantulah kami agar tetap bersatu padu dan sehati sejiwa; hindarkan kami dari perpecahan dan percekcokan.
Jadikanlah keluarga kami ibarat batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu menjadi Tubuh Kristus yang rukun dan bersatu padu.
Berilah kepada keluarga kami rezeki yang cukup. Semoga kami sekeluarga selalu berusaha hidup lebih baik di tengah-tengah jemaat dan masyarakat.
Jadikanlah keluarga kami garam dan terang dalam masyarakat. Semoga keluarga kami selalu setia mengamalkan peran ini kendati harus menghadapi aneka tantangan.
Ya Bapa, kami berdoa pula untuk keluarga yang sedang dilanda kesulitan. Dampingilah mereka agar jangan patah semangat. Terlebih kami sangat prihatin untuk keluarga-keluarga yang berantakan. Jangan biarkan mereka ini hancur. Sebaliknya berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk membangun kembali keutuhan keluarga.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, Bapa keluarga umat manusia, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
P:Saudara-saudara marilah dengan hati yang mantap kita memohon datangnya Kerajaan Allah di dunia ini dengan mengucapkan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri….
U: Bapa Kami…
PENUTUP
Doa Penutup
P: Allah yang Mahabaik, setelah mendengarkan sabda-Mu, bantulah kami dalam Masa Prapaskah ini untuk hidup lebih sederhana agar dapat mengamalkan sabda-Mu di dalam keluarga dan di komunitas kami, serta dalam pergaulan kami sehari-hari dalam masyarakat. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami yang bersama dengan Dikau dan Roh Kudus hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa.
U: Amin.
Berkat Pengutusan
P: Marilah kita mohon berkat Tuhan, supaya segala upaya kita menyiapkan perayaan Paskah mencapai hasil seperti yang kita harapkan dan supaya semoga keluarga kita semakin dapat hidup dan pantang menyerah dengan menghayati nasihat-nasihat Injil.
− hening sejenak −
P: Semoga dalam Masa Prapaskah ini, Allah meneguhkan iman kita.
U: Amin.
P: Semoga Allah mendorong kita supaya lebih giat mengamalkan nasehat-nasehat injil kepada sesama, khususnya di dalam keluarga masing-masing.
U: Amin.
P: Semoga kita semua yang hadir di sini diberkati oleh Allah yang Mahakuasa, dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.
U: Amin.
Lagu Penutup
PERTEMUAN III
KELUARGA YANG PANTANG MENYERAH
Tujuan : Umat menyadari dan memahami bahwa keluarga Katolik harus memiliki semangat pantang menyerah dalam kehidupan. Keluarga Kudus Nazaret adalah teladan keluarga yang bersemangat pantang menyerah.
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka: PS No. 642
Tanda Salib dan Salam
P: † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Saudara-saudari yang terkasih pada pertemuan pertama, kita telah melihat betapa banyaknya situasi baik positif maupun negatif yang terjadi dalam keluarga Katolik saat ini.
Kita disadarkan dengan keadaan-keadaan yang mungkin sebelumnya tidak pernah kita ketahui, dan kita diajak peka terhadap keadaan yang ada.
Pada pertemuan kedua, kita telah mengetahui dasar keluarga yang utama yaitu kasih. Bagaimana sebuah kasih yang tulus mampu menjadi pondasi utama bagi keluarga kita. Akan tetapi pada prosesnya, keluarga pun tidak luput dari permasalahan.
Kini kita diajak untuk senantiasa bekerja, berjuang, dan tidak pernah menyerah menghadapi berbagai permasalahan yang terjadi. Singkatnya, kita diajak untuk terus berjuang dan tidak lupa menyerahkan segala perjuangan kita kepada penyempurnaan Allah Sang Kesempurnaan itu sendiri.
Pernyataan Tobat
P: Saudara-saudari, sebelum kita mendengarkan Sabda Allah dan merenungkannya, marilah kita menyiapkan diri dengan mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita.
− hening sejenak −
P: Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami supaya berbuat yang benar. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Engkau menanggung dosa kami supaya kami bebas dari kekuasaan dosa dan dapat hidup menurut kehendak Allah. Kristus, kasihanilah kami.
U: Kristus, kasihanilah kami.
P: Engkau menderita bagi kami supaya kami selamat dan mengikuti jejak-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.
Doa Pembukaan
P: Marilah kita berdoa
P+U : Allah Bapa kami yang Maharahim, kami bersyukur kepada-Mu atas kesempatan bertemu kembali sebagai keluarga-Mu. Kami mohon terang Roh Kudus-Mu bagi kami semua yang hadir di sini untuk menuntun kami agar mampu mendengarkan, menghayati, dan mengamalkan sabda-Mu, khususnya di dalam kehidupan keluarga kami masing-masing . Semoga dengan mengikuti teladan Keluarga Kudus yang tidak pernah menyerah dan terus bekerja, kami semakin dikuatkan dalam iman kami dengan nasehat-nasehat Injil Suci-Mu dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.
PENDALAMAN IMAN
Kisah Kehidupan
“Ibuku adalah seorang tukang cuci, ayahku sudah tiada, dan ya kakakku dan aku bukanlah orang kaya, tapi itu tidak membuat kami berpikir untuk menyerah”.
Demikian kata-kata seorang Napoleon Bonaparte pada masa mudanya, ya ia adalah Kaisar Prancis dan penakluk Eropa yang amat terkenal.
Ia awalnya berasal dari keluarga bangsawan yang terkenal di Corsica. Ayahnya adalah seorang pengacara yang terkenal namun meninggal tidak lama setelah Napoleon masuk ke akademi militer. Napoleon banyak mendapat tekanan semasa dia belajar di akademi militer karena ia adalah orang Corsica yang merupakan jajahan Prancis.
Setelah ia selesai kuliah militer, ia pulang ke Corsica namun berselisih paham dengan Jenderal Paoli di sana. Bahkan Jenderal Paoli memerintahkan para pasukan untuk membakar dan merampas habis harta di rumah Napoleon. Akibatnya Napoleon dan kakaknya harus membawa ibu, dan kelima adiknya lari mengungsi ke Marseille, Prancis. Di sinilah keluarga mereka mengalami banyak cobaan dan kesulitan keuangan.
Kebangsawanan dan ekonomi mereka jatuh seketika, ibunya dan adik perempuannya harus menjadi tukang cuci demi mencukupi kebutuhan keluarga. Seringkali bahkan mereka hanya memiliki 3 roti untuk 8 orang.
Adiknya yang masih kecil-kecil sering menangis karena kelaparan dan kedinginan. Namun mereka sekeluarga tidak pernah menyerah dan terus bekerja. Setiap ditanya oleh orang lain, Napoleon, kakak, dan semua adiknya selalu dengan bangga berkata “Ibu kami, oh dia adalah seorang tukang cuci yang mencintai anak-anaknya”.
Meski banyak mengalami kesulitan namun Napoleon dan keluarganya tetap mempertahankan kebersamaan mereka, salah satunya adalah dengan rajin mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari Minggu.
Singkat cerita pada akhirnya Napoleon masuk ke angkatan militer Prancis, dari sana karirnya terus meningkat pesat hingga akhirnya ia menjadi konsul pertama dalam sejarah Prancis, dan puncaknya adalah menjadi Kaisar Prancis dan menaklukan hampir seluruh Eropa.
Demikian juga kakak dan seluruh adiknya semua kelak menjadi orang yang amat sukses dan adiknya juga ia angkat menjadi raja di negara yang ia taklukkan.
Ibunya tetap hidup sederhana sampai akhir hayatnya dan menolak untuk tinggal di istana. Bahkan ketika Napoleon kalah dalam perang terakhirnya dan dibuang ke pulau terpencil Santa Helena, hingga akhirnya meninggal karena sakit.
Ibunya dan beberapa adiknya selalu berada di sisinya dan menemaninya melewati hari-hari terakhirnya. Itulah kisah keluarga sang penakluk dunia yang terkenal dengan kata-kata “dalam kamus hidupku tidak pernah ada kata mustahil”.
Bacaan Kitab Suci (Mat 13:53-58)
- 54.Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu?
- 55.Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas?
- 56.Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?"
- 57.Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya".
- 58.Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.
Dialog Interaktif Berdasarkan Kisah Kehidupan dan Bacaan Kitab Suci
- Apa yang menjadi sumber kekuatan dalam kisah keluarga Napoleon?
- Mengapa Yesus ditolak di tempat asal-Nya? Bagaimana reaksi orang-orang di tempat asal-Nya setelah mengetahui bahwa Yesus hanyalah anak Yusuf si tukang kayu?
- Apakah dengan menghadapi situasi yang tidak mengenakkan ini, Yesus dan keluarga-Nya merasa malu dan minder? Semangat macam apakah yang membuat mereka tetap menjalani kehidupan apa adanya?
- Apakah Anda (dan keluarga Anda) pernah memiliki pengalaman seperti keluarga Napoleon dan keluarga Yesus? Semangat apakah yang membuat Anda (dan keluarga Anda) tetap bertahan hingga sekarang ini? Silahkan Anda berbagi.
POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
- Tidak pernah ada keluarga yang sempurna, dan setiap keluarga pasti memiliki masalahnya masing-masing. Tetapi di dalam segala permasalahan itulah sebenarnya keluarga mengembangkan diri dan dibentuk sedemikian rupa. Hal yang harus dilakukan oleh keluarga adalah tidak pernah menyerah dan selalu memohon penyempurnaan Allah dalam menghadapi berbagai kesulitan.
- Status dan keadaan keluarga seringkali membuat sebuah keluarga dipandang remeh oleh masyarakat. Hal itulah yang pernah dialami oleh Napoleon dan keluarganya. Kita dapat melihat bagaimana perjuangan Napoleon dan keluarganya dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi. Bagaimana mereka tidak pernah berhenti bekerja, dan yang terpenting adalah bagaimana mereka tetap bangga dengan keluarganya apapun yang terjadi. Hal ini menjadi penting karena kebanggaan akan keluarga berarti adanya rasa memiliki dan keterikatan satu sama lain yang luar biasa. Keadaan tidak mampu mengalahkan cinta kasih yang ada dalam keluarga.
- Penolakan dan cibiran dari orang lain juga pernah dialami oleh Yesus dalam karya pelayanan-Nya. Orang tidak melihat Yesus sebagai guru dan penyelamat yang datang ke dunia. Ia diremehkan dan tidak dipercaya karena ia hanyalah anak tukang kayu. Tetapi kita dapat melihat bahwa tidak pernah sekalipun Yesus mengeluhkan keadaan orang tuanya. Ia sungguh mencintai keluarga-Nya dengan begitu mendalam dan kita bisa meyakini bahwa Ia sangat mencintai Maria dan Yosef. Injil memang tidak menulis kisah Keluarga Kudus setelah Yesus berusia 12 tahun. Namun Injil Lukas yang menceritakan Yesus hilang di Bait Allah (Luk 2:41-52), menuliskan “Yesus semakin bertambah besar dan bertambah hikmat, makin dikasihi oleh Allah dan manusia (ayat 52). Dari ayat tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa orang tua Yesus selalu menjaga-Nya dan bersama-sama berproses serta berkembang dalam satu keluarga. Yosef dan Maria merawat Yesus dalam keheningan panjang, dan dalam penyerahan diri secara total kepada Allah.
- Keluarga juga tidak pernah boleh berhenti bekerja, mengapa? Karena sejak awal mula manusia diciptakan sebagai rekan kerja Allah. Oleh sebab itulah sebagai manusia kita tidak pernah boleh berhenti bekerja. Keluarga harus menjadi sekolah bagi setiap manusia untuk berkembang dan mencintai kerja. Tapi lebih dari itu, segala kerja yang dilakukan oleh keluarga harus menjadi suatu bentuk doa dan persembahan diri bagi Allah. Bunda Teresa menyebutnya “Ora Et Labora” atau “berdoa dan bekerja”. Sementara para Karmelit menyebutnya “Ora In Labora” atau berdoa dalam bekerja”. Melalui kerja dan sikap pantang menyerah keluarga diajak untuk mau menyerahkan segalanya kepada Allah dan senantiasa memohon penyempurnaan dari Allah Sang Kesempurnaan.
DOA UMAT
P: Allah Bapa yang Mahabaik, Engkau menghendaki agar keluarga-keluarga Katolik yang telah Engkau bangun melalui perkawinan sah dan sakramental dapat hidup bahagia. Bapa dengarlah doa dan permohonan umat-Mu ini.L: Ya Bapa semoga para pemimpin Gereja mampu menanamkan sabda-Mu dalam diri kami sehingga kami menjadi pelaku sabda-Mu yang setia. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya, Bapa semoga keluarga-keluarga yang sedang mengalami konflik mampu menyelesaikan permasalahan mereka dalam terang Injil. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Ya, Bapa semoga setiap keluarga senantiasa bersemeangat, dan pantang menyerah dalam menjalani kehidupan. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P: Marilah kita berdoa bersama-sama.
P+U : Doa Untuk Keluarga
Puji Syukur, No. 162
Ya Allah, Bapa sekalian insan, Engkau menciptakan manusia dan menghimpun mereka menjadi satu keluarga, yakni keluarga-Mu sendiri. Engkau pun telah memberi kami keluarga teladan, yakni keluarga kudus Nazaret, yang anggota-anggotanya sangat takwa kepada-Mu dan penuh kasih satu sama lain.
Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini. Semoga keluarga kami selalu Kau dorong untuk meneladan keluarga kudus Nazaret.
Semoga keluarga kami tumbuh menjadi keluarga Kristen yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih : kasih akan Dikau dan kasih antarsemua anggota keluarga.
Ajarlah kami hidup menurut Injil, yaitu rukun, ramah, bijaksana, sederhana, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling membantu dengan ikhlas hati.
Hindarkanlah keluarga kami dari marabahaya dan malapetaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami sekeluarga menghadapi masalah-masalah.
Bantulah kami agar tetap bersatu padu dan sehati sejiwa; hindarkan kami dari perpecahan dan percekcokan.
Jadikanlah keluarga kami ibarat batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu menjadi Tubuh Kristus yang rukun dan bersatu padu.
Berilah kepada keluarga kami rezeki yang cukup. Semoga kami sekeluarga selalu berusaha hidup lebih baik di tengah-tengah jemaat dan masyarakat.
Jadikanlah keluarga kami garam dan terang dalam masyarakat. Semoga keluarga kami selalu setia mengamalkan peran ini kendati harus menghadapi aneka tantangan.
Ya Bapa, kami berdoa pula untuk keluarga yang sedang dilanda kesulitan. Dampingilah mereka agar jangan patah semangat.
Terlebih kami sangat prihatin untuk keluarga-keluarga yang berantakan. Jangan biarkan mereka ini hancur. Sebaliknya berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk membangun kembali keutuhan keluarga.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, Bapa keluarga umat manusia, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
L: Allah Bapa di surga, demikianlah permohonan kami semoga Keluarga Nazaret tetap menjadi teladan bagi kami semua, dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.
U: Amin.
P: Saudara-saudari sekalian marilah kita satukan segala ujud dan permohonan kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus kepada kita.
U: Bapa Kami…
PENUTUP
Doa Penutup
P: Allah Bapa kami yang Mahabaik, kami bersyukur atas segala rahmat yang Kauberikan kepada kami sehingga kami dapat berbagi pengalaman iman dalam mengolah konflik kehidupan kami khususnya persoalan-persoalan dalam rumah tangga. Semoga kami sebagai pribadi dalam keluarga mampu menyadari Kerahiman Ilahi sehingga Kerahiman Ilahi itu tumbuh dan berakar dalam rumah tangga kami masing-masing. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami.
U: Amin.
Berkat Pengutusan
P: Marilah kita mohon berkat Tuhan, supaya segala upaya kita menyiapkan perayaan Paskah mencapai hasil seperti yang kita harapkan dan supaya semoga keluarga kita semakin dapat hidup dan pantang menyerah dengan menghayati nasihat-nasihat Injil.
− hening sejenak −
P: Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Semoga kita sekalian diberkati oleh Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Dengan demikian ibadat kita sudah selesai.
U: Syukur kepada Allah.
P: Marilah pergi dan senantiasa mewartakan kasih Tuhan, kita diutus.
U: Amin.
Lagu Penutup : PS No. 443
PERTEMUAN IV
KEHADIRAN ALLAH DALAM KELUARGA
KEHADIRAN ALLAH DALAM KELUARGA
YANG BERSEMANGAT PANTANG MENYERAH
Tujuan : Umat menyadari dan memahami bahwa penyelenggaraan ilahi selalu ada kehidupan dalam keluarga Katolik yang bersemangat pantang menyerah.
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
Tanda Salib dan Salam
P: † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga Bapa melindungi kita dengan sabda-Nya, semoga Yesus mengajar kita menerima sabda Allah dalam hidup kita dan semoga Roh Kudus memampukan kita untuk melaksanakan sabda Allah dalam hidup kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
Pengantar
Saudara-saudari yang terkasih pada pertemuan pertama, kita telah mengamati tantangan-tantangan yang ada dalam kehidupan keluarga Katolik saat ini.
Pada pertemuan kedua, kita diajak untuk menyadari bahwa kasih adalah yang mendasari hal ihwal kehidupan keluarga Katolik.
Pada pertemuan ketiga, kita telah menyadari bahwa kasih itulah yang membuat keluarga Katolik memiliki semangat pantang menyerah dalam kehidupannya.
Dan kini dalam pertemuan keempat (pertemuan terakhir) kita akan mencoba menggali bagaimana peran Allah di dalam keluarga yang bersemangat pantang menyerah. Kita diharapkan “mengembalikan” semua upaya kita kepada Sang Penyelenggara Ilahi sehingga Masa Prapaskah ini menjadi kesempatan bagi keluarga kita untuk semakin bertumbuh dalam Tuhan.
Pernyataan Tobat
P: Saudara-saudari, sebelum kita mendengarkan Sabda Allah dan merenungkannya, marilah kita menyiapkan diri dengan mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita.
− hening sejenak −
P: Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang dari Bapa membawa hukum dan perintah Allah untuk keluarga kami. Namun keluarga kami sering tidak menerima hukum dan perintah Allah itu dengan tulus hati. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Tuhan Yesus Kristus, Engkau mengajarkan keluarga kami kebaikan dan mengerjakan mukjizat keselamatan. Namun keluarga kami sering menolak keselamatan itu. Kristus, kasihanilah kami.
U: Kristus, kasihanilah kami.
P: Tuhan Yesus Kristus, Engkau kembali kepada Bapa di surga dan mengutus Roh Kudus agar keluarga kami mampu melaksanakan sabda Allah. Namun keluarga kami sering tidak berbuat baik kepada sesama. Tuhan, kasihanilah kami.
U: Tuhan, kasihanilah kami.
P: Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal.
U: Amin.
Doa Pembukaan
P: Marilah kita berdoa
P+U : Allah Bapa yang Mahabaik, Engkau menyatakan kebesaran-Mu di antara para bangsa dengan memilih Israel, berada dekat umat-Mu dan membimbing mereka dengan hukum dan perintah-Mu. Yesus mengajarkan keluarga kami untuk menerima hukum Allah dan menyimpan hukum Allah dalam hati yang murni. Semoga Roh Kudus membantu keluarga kami untuk rendah hati menerima sabda Allah khususnya dalam Masa Prapaskah ini agar keluarga kami dapat melaksanakan hukum Allah dalam hidup keluarga kami setiap hari melalui perbuatan keluarga kami meski kecil sekalipun di hadapan perbuatan Allah yang besar. Dengan demikian keluarga kami selalu dapat memuji dan meluhurkan Dikau, ya Allah Tritunggal yang Mahakudus − Bapa, Putra dan Roh Kudus − sepanjang segala masa. Amin.
PENDALAMAN IMAN
Kisah Kehidupan
Joel dan Lauren memutuskan untuk pindah dari negara bagian Washington ke kampung halaman mereka di Michigan. Karena ingin membawa kenangan terakhir yang indah, mereka membeli kopi dari kafe favorit mereka dan mampir di toko buku favorit mereka.
Di toko itu, mereka membeli dua lembar stiker mobil yang bertuliskan moto favorit dari kota yang akan mereka tinggalkan itu : “Sungguh suatu hari yang indah di Edmonds”.
Setelah dua minggu berkendara dan menempuh jarak sejauh 4.800 km, mereka pun memasuki Michigan. Karena sudah lapar sekaligus ingin merayakan kedatangan mereka, mereka berhenti dan bertanya di mana dapat menemukan restoran.
Walaupun mereka harus berbalik arah beberapa kilometer jauhnya, akhirnya mereka menemukan suatu kafe kecil kuno yang menarik.
Emma, pelayan yang melayani mereka, senang sekali ketika mengetahui bahwa mereka datang dari kampung halamannya, negara bagian Washington. Emma bertanya, “Dari kota apa?”. “Edmonds”, jawab mereka. “Itu tempat kelahiranku!”, jawab Emma.
Untuk berbagi kebahagiaan, Joel mengambil stiker mobil satunya lagi dan memberikannya kepada Emma. Yang ajaib, ternyata stiker itu berasal dari toko ibunya! Stiker tersebut berpindah tangan dari ibunya Emma ke Joel dan Lauren, dan menempuh jarak 4.800 km untuk sampai ke tangan Emma.
Bacaan Kitab Suci (Kejadian 45:1-28)
- Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya, lalu berserulah ia: "Suruhlah keluar semua orang dari sini." Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf, ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya.
- Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun.
- Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya: "Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?" Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya, sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia.
- Lalu kata Yusuf kepada saudara-saudaranya itu: "Marilah dekat-dekat." Maka mendekatlah mereka. Katanya lagi: "Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir.
- Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.
- Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai.
- Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong.
- Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.
- Segeralah kamu kembali kepada bapa, dan katakanlah kepadanya: Beginilah kata Yusuf, anakmu: Allah telah menempatkan aku sebagai tuan atas seluruh Mesir; datanglah mendapatkan aku, janganlah tunggu-tunggu.
- Engkau akan tinggal di Tanah Gosyen dan akan dekat kepadaku, engkau serta anak dan cucumu, kambing domba dan lembu sapimu dan segala milikmu.
- Di sanalah aku memelihara engkau sebab kelaparan ini masih ada lima tahun lagi supaya engkau jangan jatuh miskin bersama seisi rumahmu dan semua orang yang ikut serta dengan engkau.
- Dan kamu telah melihat dengan mata sendiri, dan saudaraku Benyamin juga, bahwa mulutku sendiri mengatakannya kepadamu.
- Sebab itu ceritakanlah kepada bapa segala kemuliaanku di negeri Mesir ini, dan segala yang telah kamu lihat, kemudian segeralah bawa bapa ke mari."
- Lalu dipeluknyalah leher Benyamin, adiknya itu, dan menangislah ia, dan menangis pulalah Benyamin pada bahu Yusuf.
- Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka. Sesudah itu barulah saudara-saudaranya bercakap-cakap dengan dia.
- Ketika dalam istana Firaun terdengar kabar, bahwa saudara-saudara Yusuf datang, hal itu diterima dengan baik oleh Firaun dan pegawai-pegawainya.
- Lalu berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Katakanlah kepada saudara-saudaramu: Buatlah begini: muatilah binatang-binatangmu dan pergilah ke tanah Kanaan,
- jemputlah ayahmu dan seisi rumahmu dan datanglah mendapatkan aku, maka aku akan memberikan kepadamu apa yang paling baik di tanah Mesir, sehingga kamu akan mengecap kesuburan tanah ini.
- Selanjutnya engkau mendapat perintah mengatakan kepada mereka: Buatlah begini: bawalah kereta dari tanah Mesir untuk anak-anakmu dan isteri-isterimu, jemputlah ayahmu dari sana dan datanglah ke mari.
- Janganlah kamu merasa sayang meninggalkan barang-barangmu, sebab apa yang paling baik di seluruh tanah Mesir ini adalah milikmu."
- Demikianlah dilakukan oleh anak-anak Israel itu. Yusuf memberikan kereta kepada mereka menurut perintah Firaun; juga diberikan kepada mereka bekal di jalan.
- Kepada mereka masing-masing diberikannya sepotong pesalin dan kepada Benyamin diberikannya tiga ratus uang perak dan lima potong pesalin.
- Di samping itu kepada ayahnya dikirimkannya sepuluh ekor keledai jantan, dimuati dengan apa yang paling baik di Mesir, lagipula sepuluh ekor keledai betina, dimuati dengan gandum dan roti dan makanan untuk ayahnya dalam perjalanan.
- Kemudian ia melepas saudara-saudaranya serta berkata kepada mereka: "Janganlah berbantah-bantah di jalan."
- Demikianlah mereka pergi dari tanah Mesir dan sampai di tanah Kanaan, kepada Yakub, ayah mereka.
- Mereka menceritakan kepadanya: "Yusuf masih hidup, bahkan dialah yang menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Tetapi hati Yakub tetap dingin, sebab ia tidak dapat mempercayai mereka.
- Tetapi ketika mereka menyampaikan kepadanya segala perkataan yang diucapkan Yusuf, dan ketika dilihatnya kereta yang dikirim oleh Yusuf untuk menjemputnya, maka bangkitlah kembali semangat Yakub, ayah mereka itu.
- Kata Yakub: "Cukuplah itu; anakku Yusuf masih hidup; aku mau pergi melihatnya, sebelum aku mati."
Dialog Interaktif
Berdasarkan Kisah Kehidupan dan Bacaan Kitab Suci
- Berdasarkan kisah di atas, menurut Anda, apa yang dialami Emma merupakan suatu kebetulan belaka? Silahkan mengungkapkan pendapat Anda.
- Dari bacaan Kitab Suci : Mengapa saudara-saudara Yusuf mengambil resiko dengan pergi ke Mesir? Apakah keluarga Yusuf menyerah pada keadaan?
- Dari bacaan Kitab Suci : Apakah ada peran Tuhan dalam kisah di atas? Jika ada, bagaimana Tuhan berperan dalam menyelamatkan keluarga Yusuf?
- Apakah Anda (dan keluarga Anda) pernah memiliki semangat pantang menyerah dalam meniti kehidupan sehari-hari? Sharingkan!
- Apakah dalam semangat pantang menyerah tersebut, Anda (dan keluarga Anda) menyadari tangan Tuhan bekerja untuk menyelamatkan keluarga Anda? Sharingkan!
- Dalam Masa Prapaskah kita diharapkan melakukan suatu aksi/tindakan sebagai wujud pertobatan kita. Jika memungkinkan, silahkan merencanakan aksi bersama sesuai dengan tema Aksi Puasa Pembangunan : “KELUARGA BERSEMANGAT PANTANG MENYERAH”!
POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
Puncak dari seluruh kisah ini termaktub dalam pernyataan Yusuf, "Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh tanah Mesir" (Kej 45:8).
Nanti pernyataan ini akan diulang kembali dalam Kej 50:20. Dalam ayat yang singkat ini terkandung teologi yang sangat dalam, yakni "Penyelenggaraan Ilahi" (Providentia Divina). Dengan pernyataan itu, Yusuf bukan hanya memaafkan perbuatan saudaranya, tetapi juga melihat "Tangan Tuhan" yang memakai kesalahan para saudaranya demi keselamatan keluarganya.
Secara sepintas, kisah Yusuf tidak begitu menonjol sebagai "sejarah keselamatan" bila dibandingkan dengan kisah para bapa bangsa Abraham, Ishak, dan Yakub di mana tema "janji Allah" sangat mencolok. Tema itu absen dalam kisah Yusuf ini.
Dengan kata lain, sejarah keselamatan tidak langsung kentara. Namun, di situlah terletak kekuatan kisah ini, yaitu ketika Tuhan mengubah kejahatan dalam sejarah seorang anak manusia menjadi kebaikan.
Bila tema janji Allah agak kabur, tema penyelenggaraan ilahi menjadi kentara. Inilah yang boleh kita sebut sebagai tuntunan tangan Tuhan yang tersembunyi dan diam-diam dalam sejarah.
Dalam kisah Yusuf ini, setelah diceritakan sedemikian banyak hal yang dibuat oleh manusia, pada akhirnya dari pernyataan Yusuf sendiri satu-satunya yang bertindak dalam seluruh peristiwa adalah Allah, bukan para saudaranya yang "mengirim" Yusuf ke Mesir.
Selebihnya, kisah tentang Yusuf dan keluarganya (Kej 45:16-50:26) menjadi penutup kisah inti di atas tadi.
Keluarga-keluarga Katolik juga diajak untuk menyadari bahwa dalam berbagai peristiwa hidupnya, entah suka maupun duka, selalu ada penyelenggaraan ilahi. Dari pihak kita hanya dituntut semangat untuk memperjuangkannya secara aktif dalam iman.
DOA UMAT
P: Allah Bapa yang Mahabaik, Engkau selalu berbicara kepada keluarga kami dengan menyampaikan kehendak-Mu. Yesus mengajarkan keluarga kami untuk menerima sabda Allah dan melaksanakannya. Dalam kuasa Roh Kudus, keluarga kami mau menyampaikan doa-doa permohonan kami ini.
L: Semoga keluarga kami sebagai Gereja rumah tangga dapat hidup dari sabda Allah sehingga membawa sabda Allah itu kepada semua orang. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Semoga Masa Prapaskah ini menyadarkan semua keluarga Katolik untuk sungguh merenungkan sabda Allah dan menjadikan sabda Allah sebagai pedoman hidup. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L: Semoga keluarga kami menyimpan Sabda Kebaikan di dalam hati keluarga kami dan dapat melakukan karya-karya biar kecil sekalipun namun menjadi berkat bagi sesama. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P: Marilah kita berdoa bersama-sama.
P+U : Doa Untuk Keluarga
Puji Syukur, No. 162
Ya Allah, Bapa sekalian insan, Engkau menciptakan manusia dan menghimpun mereka menjadi satu keluarga, yakni keluarga-Mu sendiri. Engkau pun telah memberi kami keluarga teladan, yakni keluarga kudus Nazaret, yang anggota-anggotanya sangat takwa kepada-Mu dan penuh kasih satu sama lain.
Terima kasih, Bapa, atas teladan yang indah ini. Semoga keluarga kami selalu Kau dorong untuk meneladan keluarga kudus Nazaret.
Semoga keluarga kami tumbuh menjadi keluarga Kristen yang sejati yang dibangun atas dasar iman dan kasih : kasih akan Dikau dan kasih antar semua anggota keluarga.
Ajarlah kami hidup menurut Injil, yaitu rukun, ramah, bijaksana, sederhana, saling menyayangi, saling menghormati, dan saling membantu dengan ikhlas hati.
Hindarkanlah keluarga kami dari marabahaya dan malapetaka; sertailah kami dalam suka dan duka; tabahkanlah kami bila kami sekeluarga menghadapi masalah-masalah.
Bantulah kami agar tetap bersatu padu dan sehati sejiwa; hindarkan kami dari perpecahan dan percekcokan.
Jadikanlah keluarga kami ibarat batu yang hidup untuk membangun jemaat-Mu menjadi Tubuh Kristus yang rukun dan bersatu padu.
Berilah kepada keluarga kami rezeki yang cukup. Semoga kami sekeluarga selalu berusaha hidup lebih baik di tengah-tengah jemaat dan masyarakat.
Jadikanlah keluarga kami garam dan terang dalam masyarakat.
Semoga keluarga kami selalu setia mengamalkan peran ini kendati harus menghadapi aneka tantangan. Ya Bapa, kami berdoa pula untuk keluarga yang sedang dilanda kesulitan. Dampingilah mereka agar jangan patah semangat. Terlebih kami sangat prihatin untuk keluarga-keluarga yang berantakan. Jangan biarkan mereka ini hancur. Sebaliknya berilah kekuatan kepada para anggotanya untuk membangun kembali keutuhan keluarga.
Semua ini kami mohon kepada-Mu, Bapa keluarga umat manusia, dengan pengantaraan Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
L: Ya Bapa, itulah doa-doa kami. Bantulah keluarga kami untuk menjalankan Masa Prapaskah ini dengan baik sehingga seluruh hidup keluarga kami dipenuhi sabda Allah dan diberkati Allah. Dengan demikian keluarga kami selalu memuji Allah Tritunggal yang Mahakudus sepanjang segala masa.
U: Amin.
P: Saudara-saudari sekalian marilah kita satukan segala ujud dan permohonan kita dengan doa yang diajarkan oleh Yesus kepada kita.
U: Bapa Kami…
PENUTUP
Doa Penutup
P: Ya Allah Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu karena Bapa memberi kami santapan Sabda dalam ibadat ini. Semoga keluarga kami membuka hati supaya Yesus memenuhi diri keluarga kami dengan Sabda.
Kami mohon, semoga Roh Kudus membantu keluarga kami untuk melaksanakan sabda Allah di dalam hidup keluarga kami. Dengan demikian keluarga kami juga dapat mengambil bagian dalam melaksanakan karya-karya meski kecil sekalipun. Kami memuji dan meluhurkan Dikau, ya Allah Tritunggal yang Mahakudus sepanjang segala masa.
U: Amin.
Berkat Pengutusan
P: Marilah kita mohon berkat Tuhan, supaya segala upaya kita menyiapkan perayaan Paskah mencapai hasil seperti yang kita harapkan dan supaya semoga keluarga kita semakin dapat hidup dan pantang menyerah dengan menghayati nasihat-nasihat Injil.
− hening sejenak −
P: Tuhan beserta kita.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
P: Semoga kita sekalian diberkati oleh Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Dengan demikian ibadat kita sudah selesai.
U: Syukur kepada Allah.
P: Marilah pergi dan senantiasa mewartakan kasih Tuhan, kita diutus.
U: Amin.
Lagu Penutup
Semoga bahan panduan ini mampu menjadi alat bantu buat para pemandu renungan APP. Panduan ini adalah karya Mahasiswa Unika Admajaya yang ditugaskan Keuskupan Bogor dari Seksi Kateketik, yang disampaikan dalam pembekalan pemandu APP pada Hari Minggu Tanggal 6 Pebruari 2016 di Gedung SD Mardi Waluya Cibinong
Berikut rekaman audio panduan pemandu APP 2016

0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.